Fenomena Permen Jadi Uang Kembalian

Pernah gak belanja di hyper market seperti misalnya indomaret atau alfamart dan sejenisnya? Misalnya belanjaan habis Rp 49.900 lalu kita bayar dengan uang Rp 50.000 seharusnya kan kembali Rp 100, kok malah dikasi permen ya?  apa sekarang permen itu adalah jenis mata uang baru yang berlaku dan sah di Indonesia? 😀

ngakak

Sindiran kecil ini yang membuat foto (tau foto siapa mungkin si otong hehe) diatas ngakak nggak karuan guling guling… Hebat ya, di Indonesia bisa menciptakan uang jenis baru berbentuk “permen” hehehe… sempat kepikiran sih nanti permen kembalian itu di kumpulkan dan di gunakan untuk berbelanja lagi *ngakak* aduh lucunya fenomena ini. Kalau seandainya ini terus terjadi besok saya mau ke hyper market terus beli Notebook pakai permen 😛

Emang dasar manusia, sifat bawaannya tamak jadinya tidak pernah merasa puas dan cukup. Sebenarnya kembalian dengan permen ini salah satu strategy bisnis agar permen laku meskipun terkesan menjual dengan cara memaksa halus. Ya, kenapa kok bisa dibilang memaksa halus? iya kalau konsumen yang diberi kembalian permen itu doyan permen kalau yang lagi sakit gigi atau ompong atau apa sajalah yang pokoknya nggak bisa makan permen kan jadi lucu.

Dan semakin lucunya pada sebuah kasus…. mungkin karena saking jengkelnya ibu-bu karena akibat terlalu sering di paksa kembalian dengan permen. Sang ibu ini pun ke hyper market dan membeli barang, kemudian menanyakan ke teller “mbak bayarnya boleh pakai permen?” “nggak boleh bu” ” lho kan saya tiap belanja selalu di beri kembalian permen, ini permen buat apa kan duit juga” HAHAHAHA…..

Departemen Perdagangan Republik Indonesia dengan ini menyatakan permen tidak boleh menjadi alat kembalian…

Direktur Perlindungan Konsumen Depdag menegaskan, aturan pengembalian dalam transaksi ritel tertuang jelas dalam Undang-Undang (UU) Nomor 23/1999 tentang Bank Indonesia (BI).

UU BI menetapkan, seberapa pun kecil nilai kembalian dalam setiap transaksi, tetap harus menggunakan alat pembayaran yang sah. Jika penjual tetap membandel mereka telah melanggar UU BI dan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Ya iyalah……. jangan gila dong masa setiap belanja kembaliannya permen permen permen emangnya semua orang mau digituin? Nomimalnya memang bisa di bilang kecil tapi coba di hitung…. Misal: 1000 pembeli mendapat kembalian permen, harga permen anggap saja Rp 100 maka penghasilan dari kembalian permen adalah…. Jumlah pembeli x harga permen = 1000 x 100 = Rp 100.000

Wow ajib…. lumayan juga ya kalau tiap hari begitu hehehe…

Kata Kunci Terkait:

8 thoughts on “Fenomena Permen Jadi Uang Kembalian”

  1. Saya pernah melihat dalam suatu forum tentang hal yang sama, temanya permen sebagai alat transaksi pengganti uang. Kalau memang permen menjadi alat pengganti uang, kok gak bisa beli barang pakai permen?? Sebenarnya ini merupakan salah satu pelanggaran hak konsumen, dan lagi-lagi produsen diuntungkan (produsen permen terutama.. hahahaha)

    Reply
  2. namun terkadang karena ketidakpahaman konsumen akan hal itu hanya bisa menggerutu saja… yach.. malah terkadang kita mengesahkannya.. sudah semestinya kita berani mengungkapkan.. ini juga perlu peran aktif lembaga terkait.. karena sudah marak hal ini terjadi

    Reply
  3. hohoho sukoco salah korban kejahatan indomaret dan alfamart ya? coba sekali-kali pas dikasi permen bilang sama kasirnya apa dia tau aturan undang-undang baru, kalau dia ngotot panggil pengelolanya pasti kena tuh ^^

    Reply
  4. kebiasaan indomaret sama alfamart, kembalian diberi permen…
    kalau gak dikasi permen, kembaliannya tidak diberikan alias uang kita dicuri…

    konsumen indomaret sama alfamart korban mereka…

    Reply
  5. biar ga dikasih permen kita bawa koin kecil2 aja pasti ga di kasih permen. Kebiasaanku bawa dompet kecil khusus isi koin pecahan. Syukur klo kita punya uang 50perak kita kerjain ajah. He…. 🙂 harusnya ada permen yg ber cap toko itu jd klo dikumpulin bs wat beli notebook.

    Reply

Leave a Comment

[+] yoyocici emoticons Istanto Personal Blog

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.